DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA MENDUKUNG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN KORUPSI    |    SERTIFIKASI PERIKANAN BUDIDAYA, JAMINAN KEAMANAN PANGAN DAN PENINGKATAN KUALITAS PRODUK MENUJU PASAR BEBAS ASEAN 2015    |    PERIKANAN BUDIDAYA MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN, MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT DAN MENYERAP TENAGA KERJA    |    TINGKATKAN PRODUKSI, HAPUS KORUPSI    |    UNTUK SARAN DAN PENGADUAN DAPAT MENGHUBUNGI TELP/FAX (021) 3514779 ATAU EMAIL PENGADUAN.DJPB@KKP.GO.ID    |   

PRODUKSI DAN USAHA BUDIDAYA

FOKUS PEMBERDAYAAN, KKP REALISASIKAN LELE BIOFLOK MASUK PESANTREN

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) segera realisasikan program dukungan usaha budidaya lele sistem bioflok untuk 73 pondok pesantren yang tersebar di 15 Propinsi. Program ini ditargetkan akan menyasar pemberdayaan terhadap setidaknya 78.500 orang santri/siswa. Hingga saat ini proses identifikasi, verifikasi dan penetapan calon penerima program telah selesai dilaksanakan, dan ditargetkan akhir bulan Juni telah terealisasi secara serentak.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengungkapkan hal tersebut saat memberikan arahan dalam Rapat Koordinasi Bantuan Pemerintah Budidaya Lele Sistem Bioflok di Kantor KKP, Kamis (15/6). Hadir dalam acara tersebut diantaranya berbagai perwakilan elemen organisasi keagamaan yaitu Perwakilan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), dan Pimpinan Pusat Muhammadiyah (PP Muhammadiyah).

Menurut Slamet, setidaknya ada 2 (dua) alasan penting kenapa pihaknya lebih banyak mengalokasikan program ini pada pondok pesantren. Pertama, menurutnya pesantren sebagai lembaga non formal merupakan lingkungan yang efektif untuk  pembelajaran pengembangan usaha, sehingga pengenalan usaha lele bioflok ini diharapkan akan mampu mewujudkan pemberdayaan umat dan menjadi ladang dalam mencetak wirausahawan baru. Kedua, Pemerintah memiliki tanggunjawab moral untuk meningkatkan kualitas SDM di lingkungan pesantren melalui penyediaan dan peningkatan gizi berbasis ikan.

“Kita ingin kualitas SDM para Santri ini meningkat dengan membiasakan mengkonsumsi ikan. Saat ini tingkat konsumsi ikan di lingkungan pesantren hanya sekitar 9 kg per kapita/tahun, melalui program ini paling tidak ada peningkatan menjadi 15 kg per kapita pertahun”, Jelas Slamet.

Dengan budidaya sistem bioflok ini produktivitas bisa ditingkatkan sampai 3 kali lipat dibanding sistem konvensional. Slamet menggambarkan dengan asumsi per paket bantuan sebanyak 12 kolam bulat (diameter 3 m), maka dapat hasil produksi yang dihasilkan setidaknya sebanyak 12,15 ton per tahun dengan nilai pendapatan mencapai 182 juta. Dengan kata lain pembudidaya akan mendapatkan nilai tambah keuntungan rata-rata sebesar Rp.3.900,- per kg. Selain itu dari kualitas produk, diakui konsumen bahwa daging lele hasil budidaya dengan sistem ini memiliki citarasa yang lebih enak dan warna daging lebih putih.

“Saya rasa sebagai tahap awal nilai ini cukup besar, dan sangat potensial untuk menggerakan ekonomi pesantren, dengan demikian pesantren akan lebih mandiri dan lebih maju dari sisi kualitas”, ungkapnya.

Nantinya dukungan ini akan dialokasikan melalui wadah koperasi yang ada di pesantren. Koperasi inilah yang nantinya juga berperan dalam mengelola kegiatan usaha sekaligus sebagai penyangga akses pasarnya. Oleh karenanya, Slamet berpesan agar koperasi ini dapat berperan secara aktif guna menjadi mitra usaha untuk memenuhi kebutuhan konsumsi ikan para santri/siswa.

Sisa dari hasil penjualan terhadap produksi ikan lele, agar digunakan untuk mengembangkan usaha budidaya ikan. Penting melakukan re-investasi untuk kesinambungan usaha”, pungkas Slamet.

Dalam menjamin keberhasilan program ini, pihak KKP juga akan menggandeng berbagai pihak untuk konsen melakukan pengawalan dan pendampingan baik teknis maupun manajemen usahanya. Pihak-pihak tersebut antara lain Unit Pelaksana Teknis (UPT), konsultan bisnis, perguruan tinggi, para pakar dan penyuluh.

Disamping pondok pesantren, program ini juga dialokasikan untuk mendukung usaha masyarakat di kawasan perbatasan antara lain Kabupaten Nunukan Propinsi Kalimantan Timur, Kabupaten Belu, Kabupaten Sarmi dan Wamena. Kawasan perbatasan menjadi bagian focus KKP dalam upaya menopang kebutuhan pangan dan gizi masyarakat, apalagi masyarakat disana cenderung sulit mendapatkan akses pangan yang bergizi seperti ikan.

Sementara itu, Nahnudin perwakilan dari Ponpes Mihbahul Huda Tegal menyampaikan apresiasi atas realisasi program “Lele Bioflok Masuk Pesantren” ini. Dirinya menyambut baik upaya Pemerintah yang mulai konsen melirik pesantren sebagai objek pemberdayaan.

“Dengan adanya pengenalan usaha lele bioflok ini, nanti selain untuk kepentingan usaha, juga sebagai ladang pembelajaran untuk mencetak wirausahawan di kalangan para santri yang selama ini hanya mendapatkan pembelajaran mengaji saja. Selama ini kami hanya konses belajar ngaji, mulai saat ini kemampuan santri akan lebih”, ungkapnya

Hal senada juga diungkapkan Samsul Arifin dari Ponpes Al Amiriah, bahwa program ini diharapkan akan mendorong kemandirian pesantren melalui pengenalan usaha agribisnis budidaya lele, terlebih jumlah santri yang cukup banyak yang mencapai 300 orang santri inap dan 1.200 santri sekolah.

“Kami mengucapkan terimakasih kepada pemerintah yang telah memberikan dukungan dan perhatian bagi perkembangan pesantren yang ada di Indonesia”, katanya saat dimintai pendapat.