DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA MENDUKUNG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN KORUPSI    |    SERTIFIKASI PERIKANAN BUDIDAYA, JAMINAN KEAMANAN PANGAN DAN PENINGKATAN KUALITAS PRODUK MENUJU PASAR BEBAS ASEAN 2015    |    PERIKANAN BUDIDAYA MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN, MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT DAN MENYERAP TENAGA KERJA    |    TINGKATKAN PRODUKSI, HAPUS KORUPSI    |    UNTUK SARAN DAN PENGADUAN DAPAT MENGHUBUNGI TELP/FAX (021) 3514779 ATAU EMAIL PENGADUAN.DJPB@KKP.GO.ID    |   

SESDITJEN

JAMIN MUTU BENIH, KKP DORONG BROODSTOCK CENTER PERBAIKI BREEDING PROGRAM UDANG VANAME

Balai Produksi Induk Udang Unggul dan Kekerangan (BPIU2K) Karangasem-Bali sebagai satu satunya Broodstock Center Udang Vaname nasional dituntut untuk terus perbaiki kualitas induk udang vaname nusantara, guna menjamin performa benih dan tidak kalah bersaing dengan induk hasil importasi. Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, menegaskan hal tersebut saat meninjau langsung instalasi broodstock center udang vaname di Bugbug Karangasem Bali, Senin (6/6).

Slamet menekankan pentingnya perbaikan breeding program sesuai protokol yang ada, guna menjamin kualitas induk dan benih yang memiliki respon yang baik. Dirinya menggambarkan, untuk menyimpulkan bahwa induk dan benih yang dihasilkan berkualitas, indikasinya yaitu dengan melihat tren permintaan di tingkat pengguna. “Jika tren permintaan induk maupun benih meningkat di tingkat pengguna, artinya kualitas induk dan benih yang kita hasilkan sudah baik”, kata Slamet. Kendati demikian, Slamet menilai broodstock center BPIU2K sudah mengalami banyak kemajuan jika dibanding beberapa tahun ke belakang.

“Kalo dengan performa terkait pertumbuhan, ketahanan terhadap penyakit, dan sifat adaptif dengan lingkungan saat ini vaname nusantara sudah bisa dikatakan sejajar dengan produk dari induk impor. Tinggal tingkat keseragaman yang akan terus kita tingkatkan hingga mencapai 100 persen dengan memperketat proses seleksi benih calon induk”, jelas Slamet.

Performa Induk hasil breeding program membaik

Kepala BPIU2K Karangasem, Gemi Triastutik dalam keterangannya membenarkan bahwa saat ini performa induk dan benih yang dihasilkan menunjukkan tren yang lebih baik dan mendapat respon positif dari para pembudidaya pengguna. “Kami bisa jamin bahwa Induk dan benih yang keluar telah bebas virus”, tegasnya.

Menurutnya, dalam rangka pemuliaan induk, saat ini BPIU2K Karangasem memiliki 42.578 calon induk, yaitu calon induk udang vaname sebanyak 12.578 ekor, dan calon induk vaname nusantara generasi ke-5 (VN-G5) sebanyak 30.000 ekor. Sedangkan jumlah Induk sekitar 875 ekor induk, masing-masing untuk induk vaname (dari 4 sumber genetic) sebagai bahan pemuliaan induk galur murni tumbuh cepat sebanyak 400 ekor; induk vaname hasil impor dari Konabay sebagai sumberdaya genetic untuk seleksi individu dan famili sebanyak 225 ekor; dan induk vaname nusantara (VN-G5) sebagai sumberdaya genetic hasil seleksi family sebanyak 250 ekor.

Melalui perbaikan breeding program, saat ini performa induk hasil pemuliaan yang dihasilkan khususnya vaname nusantara (VN-G5) telah membaik.  “Jika awalnya Survival rate (SR) benih hanya dapa kisaran 3-5 persen, kini telah mencapai kisaran 30-50 persen. Disamping itu  respon ditingkat pengguna juga cukup baik. Ini terbukti dengan distribusi permintaan baik induk maupun benih yang semakin luas ke berbagai daerah. Jika dibanding tahun-tahun sebelumnya permintaan naik 30-50 persen”, ungkap Gemi.

Ditambahkan Gemi, Tahun 2017 setidaknya sebanyak 9,5 juta ekor produksi benih telah terdistribusi untuk mensuplai kebutuhan benih antara lain di Propinsi Bali, Kab. Bangkalan, Kab. Sumbawa, Kota Kendari, Papua, Makassar, Takalar bahkan ada permintaan ekspor ke Timor Leste. Sementara jumlah induk yang terdistribusi sebanyak 41.468 ekor untuk memenuhi permintaan panti benih yang tersebar di Situbondo, Probolinggo, Tuban, Cilacap, Jepara, Makassar, Gorontalo, dan Lampung.

KKP melalui Ditjen Perikanan Budidaya akan mulai mewajibkan penggunaan induk hasil breeding program ke seluruh panti benih. Kedepan, dijelaskan Slamet, tidak boleh ada lagi penggunaan induk yang berasal dari pembesaran di tambak, karena itu bersifat in-breeding menyebabkan performa turun, disisi lain akan memicu penyebaran penyakit.

“Pembenih dan pembudidaya harus mulai jeli dalam menggunakan sumber induk dan benih ini. Ke depan kita akan awasi dan keluarkan aturan untuk cegah penggunaan induk yang bukan dari hasil breeding program serta penggunaan benihnya. Ini penting, karena menjadi problem utama kegagalan budidaya udang saat ini”, tegas Slamet.

“Untuk menstimulan pemahaman mereka, tahap awal kita akan memberikan bantuan berupa induk hasil breeding program ke panti-panti benih masyarakat tetapi dengan persyaratan mereka harus konsistem menerapkan SOP dengan baik misalnya terkait ketepatan maturasi induk, penerapan biosecurity yang ketat, penggunaan pakan dan obat-obatan”, tambah Slamet.

Slamet juga menekankan pentingnya pengelolaan system logistik benih untuk jamin ketelusuran dan memastikan produksi budidaya berjalan secara berkelanjutan. Menurutnya, penting untuk mulai menata sisitem ini, artinya broodstock center harus juga terkoneksi dengan naupli center yang kemudiaan bisa suplai kebutuhan benih bagi hatchery/panti benih yang ada di sentral-sentral budidaya.

Sebelumnya KKP telah membangun naupli center udang vaname berkapasitas minimal 450 juta ekor per tahun di Jepara dan diharapkan sebagai awal untuk memicu tumbuhnya naupli center sejenis di berbagai daerah.

Waspadai bahaya laten penyakit seperti wabah penyakit berak putih

Bisnis budidaya udang nasional hingga kini masih dihantui wabah penyakit. Berawal dari wabah white spot yang sempat menjadi momok menakutkan, selanjutnya muncul penyakit berak putih atau dikenl dengan white feces desease (WFD). Slamet, mengibaratkan penyakit WFD sebagai bahaya laten yang suatu saat akan mengancam tiba-tiba usaha budidaya udang,

Oleh karenanya, untuk menjawab kekhawatiran terhadap potensi  penyakit pada udang putih/vaname yang ada saat ini, pihaknya akan antisipasi dengan mendorong penggunaan udang vaname hasil breeding asli Indonesia ini. “Ini telah terbukti, saat terjadi wabah penyakit berak putih (White Feces Desease) di Banyuwangi, ternyata benih hasil produksi BPIU2K Karangasem terbukti bebas dari wabah ini”, ungkapnya.

Apalagi ditambahkan Slamet, saat ini broodstock center ini dibina oleh berbagai pakar yang kompeten khususnya dalam bidang pemuliaan/genetic, antara lain pakar dari perguruan tinggi terkemuka, pakar dari Badan Riset Kelautan dan Perikanan, dan professional yang diambil dari mantan tenaga ahli Shrimp Improvement System, California.

“Saya kira ini SDM handal yang akan mendorong peningkatan kualitas induk vaname asli Indonesia. Oleh karenanya saya yakin PR terkait ini akan kita pecahkan, dan kedepan masyarakat akan mulai menilai, sehingga udang vaname asli Indonesia ini akan mendominasi penggunaannya di seluruh daerah”, Jelas Slamet.

Selanjutnya untuk menjamin keberhasilan kegiatan budidaya udang, maka penting menerapkan pengelolaan tahapan rantai produksi secara terukur dan terencana mulai dari pemilihan benih melalui breeding program, proses produksi dengan menerapkan Best Management Practice, penerapan biosecurity yang ketat, dan penggunaan pakan dan obat-obatan secara tepat.

Slamet juga menekankan pentingnya pengelolaan budidaya udang secara berkelanjutan. Menurutnya, prinsip ini merupakan hal mendasar yang harus menjadi perhatian para pembudidaya. “Semua unit usaha budidaya udang wajib memiliki unit pengelolaan limbah (UPL), kami juga akan melakukan sosialisasi sekaligus fasilitasi penyiapan dokumen lingkungan hidup bagi unit usaha, sebagaimana yang disyaratkan dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 16 Tahun 2012 Tentang Dokumen Lingkungan”, Pungkasnya.