DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA MENDUKUNG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN KORUPSI    |    SERTIFIKASI PERIKANAN BUDIDAYA, JAMINAN KEAMANAN PANGAN DAN PENINGKATAN KUALITAS PRODUK MENUJU PASAR BEBAS ASEAN 2015    |    PERIKANAN BUDIDAYA MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN, MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT DAN MENYERAP TENAGA KERJA    |    TINGKATKAN PRODUKSI, HAPUS KORUPSI    |    UNTUK SARAN DAN PENGADUAN DAPAT MENGHUBUNGI TELP/FAX (021) 3514779 ATAU EMAIL PENGADUAN.DJPB@KKP.GO.ID    |   

UPT

KKP BERHASIL KEMBANGKAN KANDIDAT BARU UDANG PUTIH ASLI INDONESIA

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara berhasil kembangkan udang jenis baru yaitu Penaeus merguensis atau yang lebih dikenal dengan nama lokal udang putih. Dalam bisnis budidaya perudangan nasional, jenis udang marguensis ini tergolong baru dan merupakan jenis udang asli Indonesia.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, mengungkapkan, bahwa udang merguensis merupakan udang asli Indonesia yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Menurutnya KKP melalui BBPBAP Jepara akan mulai menginisiasi pengembangan jenis ini. “Kita akan angkat udang merguensis ini sebagai kandidat baru dalam bisnis perudangan nasional. Apalagi ini merupakan udang asli Indonesia, sehingga kita punya tanggunjawab untuk mempertahankan keragaman jenis udang lokal Indonesia”, ungkap Slamet dalam keterangan persnya di Jepara, Selasa (22/5).

Dijelaskan kemudian, bahwa ketersediaan induk hampir tersedia di seluruh wilayah perairan Indonesia, sehingga memudahkan untuk pengembangan komoditas ini. Siklus reproduksi udang ini juga relatif singkat dibandingkan dengan udang windu dan bahkan umur 6 bulan atau pada ukuran berat 30-40 gr telah dapat dijadikan induk, sedangkan udang windu membutuhkan waktu sekitar 1,5 tahun. Keunggulan lain dari udang merguensis ini, adalah pertumbuhan yang relative baik dengan mengandalkan kadar protein pakan yang rendah yaitu pada kisaran 24-28% dan lebih banyak memanfaatkan detritus, sehingga secara otomatis biaya produksi usaha akan lebih efisien. Lebih tahan terhadap penyakit dan disamping tentunya cita rasa dikenal lebih enak dibanding udang vaname.

“Saya rasa udang merguensis ini memiliki keunggulan komparatif, dan sangat potensial menjadi peluang usaha baru bagi para pembudidaya. Ini menjadi khabar baik sekaligus awal yang baik untuk pengembangan industri udang nasional ke depan”, kata Slamet.

Saat dikonfirmasi, Kepala BBPBAP Jepara, Sugeng Rahardjo menyampaikan bahwa hingga kini kapasitas produksi hatchery yang ada mampu menyediakan sebanyak 18 juta ekor benur per tahun. Saat ini pihaknya memiliki 18 bak dengan kapasitas produksi per bak mencapai 300 ribu benur per siklus (1 tahun sebanyak 4 siklus). Untuk menjamin ketersediaan induk, pihaknya saat ini terus melakukan domestikasi. “Upaya perekayasaan pada jenis udang ini memberikan hasil sangat menggembirakan, ke depan BBPBAP Jepara siap untuk menjadi pionir pengembangan udang merguensis di seluruh Indonesia”, tegas Sugeng.

Sebelumnya Ditjen Perikanan Budidaya melalui Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Ujung Batee, Aceh telah berhasil melakukan pembenihan udang pisang yang merupakan jenis udang endemik Aceh. Eksplorasi melalui domestikasi udang asli Indonesia, disamping akan menghasilkan nilai ekonomi, juga disisi lain memiliki arti penting dalam mempertahankan khasanan kekayaan sumberdaya udang Indonesia.

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal KKP, Rifky Effendi Hardjianto, menyampaikan apresiasi atas keberhasilan dalam melakukan pengembangan budidaya udang nasional khususnya keberhasilan memperkenalkan udang merguensis yang merupakan udang asli Indonesia. Menurutnya pengembangan udang asli Indonesia ini akan menjadi terobosan baru sebagai pengganti dalam mengantisipasi udang vaname yang saat ini mulai banyak terkendala penyakit. Ini penting untuk memotong rantai penyakit.

“Saya mengapresiasi keberhasilan temen-temen BBPBAP Jepara, ke depan udang merguensis akan semakin banyak diminati dan berkembang di masyarakat. Udang merguensis atau dipasar ekspor dikenal dengan banana shrimp ini cenderung banyak disukai konsumen. Sebagai gambaran harga 1 kg size 60 mencapai 90 ribu, lebih tinggi dibandingkan dengan udang vaname. Ini akan menjadi peluang baru dalam mengisi permintaan pasar ekspor”, Jelas Rifky

Adip, salah satu pembudidaya udang di Jepara menyatakan tertarik untuk mencoba membudidayakan udang merguensis ini. “Kami berharap udang merguensis ini akan menjadi primadona baru di pasaran, sehingga bisa menjadi obat rindu bagi kembalinya kejayaan udang asli Indonesia”, kata Adip

Perlu diketahui, sebelumnya KKP melalui Ditjen Perikanan Budidaya telah berhasil mendorong diversifikasi komoditas. Beberapa keberhasilan tersebut antara lain : pengembangan kakap merah strain Lutjanus malabaricus di  Lampung, pengembangan ikan cobia, pengembangan ikan hias asli indonsia yaitu banggai cardinal, dan betok ambon (blue devil), perbenihan udang lambouh (udang pisang khas Aceh) dan lainnya.

Sebagaimana diketahui, bisnis perudangan nasional saat ini masih didominasi oleh jenis udang vaname dan udang windu. Data mencatat selama kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir (2011 – 2015) produksi udang nasional mengalami kenaikan rata-rata sebesar 13,48 persen.

Sementara itu data yang dirillis International Trade Center (2017) menyebutkan bahwa tahun 2016 kontribusi komoditas perikanan budidaya terhadap total nilai ekspor sebesar 60,03 persen dari nilai 2,9 milyar US$. Dari nilai tersebut kontribusi nilai ekspor udang beku terhadap total nilai ekspor perikanan budidaya mencapai 72 persen.