DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA MENDUKUNG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN KORUPSI    |    SERTIFIKASI PERIKANAN BUDIDAYA, JAMINAN KEAMANAN PANGAN DAN PENINGKATAN KUALITAS PRODUK MENUJU PASAR BEBAS ASEAN 2015    |    PERIKANAN BUDIDAYA MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN, MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT DAN MENYERAP TENAGA KERJA    |    TINGKATKAN PRODUKSI, HAPUS KORUPSI    |    UNTUK SARAN DAN PENGADUAN DAPAT MENGHUBUNGI TELP/FAX (021) 3514779 ATAU EMAIL PENGADUAN.DJPB@KKP.GO.ID    |   

PRODUKSI DAN USAHA BUDIDAYA

SOLUSI PENUHI KEBUTUHAN GIZI MASYARAKAT, KKP POPULERKAN INOVASI TEKNOLOGI LELE BIOFLOK

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dituntut untuk terus mendorong peran yang lebih besar dalam menopang ketahanan pangan nasional. Produk pangan berbasis ikan saat ini menjadi andalan utama, seiring mulai terjadi pergeseran pola konsumsi masyarakat dari protein berbasis daging merah pada protein daging putih (ikan). KKP memproyeksikan sampai dengan tahun 2019 tingkat konsumsi ikan sebesar > 50 kg per kapita per tahun, dengan target tersebut setidaknya dibutuhkan suplai ikan sebanyak ± 14,6 juta ton per tahun, dimana angka ini diprediksi sekitar 60 persennya akan bergantung pada hasil produksi budidaya.

 

Sebelumnya dalam ajang Festival Kuliner Ikan Nusantara, Menteri Susi Pudjiastuti menghimbau masyarakat untuk mulai melirik  ikan sebagai sumber pangan dengan membiasakan mengkonsumsi ikan setiap hari. Susi menilai, tingkat konsumsi ikan masyarakat Indonesia masih jauh lebih rendah dibanding negara lain bhkan di level Asean sekalipun, padahal menurutnya, ikan merupakan sumber protein yang berperan penting dalam meningkatkan kualitas kecerdasan generasi bangsa ini.

 

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, dalam keterangannya di Jakarta menyampaikan, bahwa untuk mencukupi kebutuhan pangan nasional yang semakin tinggi, maka langkah utama yang perlu dilakukan adalah melalui intensifikasi teknologi yang efektif dan efisien. Slamet menggarisbawahi, bahwa saat ini upaya mewujudkan ketahanan pangan mau tidak mau harus dihadapkan langsung dengan fenomena perubahan iklim dan penurunan kualitas lingkungan global, serta disisi lain perkembangan sector industri dan ledakan jumlah penduduk juga turut memberikan kontribusi dalam mereduksi lahan sector yang berbasis pangan. Ini perlu diantisipasi, karena secara langsung akan berdampak pada penurunan suplai bahan pangan bagi masyarakat.

 

“Semua pelaku perikanan budidaya harus berkreasi mengedepankan Iptek dalam pengelolaan usaha budidaya ikan. Intinya dengan kondisi saat ini, produktivitas budidaya harus bisa dipacu dalam lahan terbatas dan dengan penggunaan sumberdaya air yang efisien”, jelas Slamet dalam keterangan pers nya di Gedung KKP, Rabu (17/5).

 

Ditjen Perikanan Budidaya telah melakukan upaya pengembangan Iptek budidaya dan terbukti berhasil, salah satunya yaitu inovasi teknologi budidaya lele sistem bioflok. Teknologi system bioflok menjadi sangat popular saat ini, karena mampu mengenjot produktivitas lele yang tinggi, penggunaan lahan yang tidak terlalu luas dan hemat sumber air. Sebagai gambaran, teknologi ini merupakan bentuk rekayasa lingkungan yang mengandalkan suplai oksigen dan pemanfaatan mikroorganisme, yang secara langsung dapat meningkatkan nilai kecernaan pakan. “Bioflok ini menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, apalagi saat ini produk lele sangat memasyarakat sebagai sumber gizi yang digemari”, imbuh Slamet.

 

Mampu genjot produktivitas hingga tiga kali lipat

 

Sebagai perbandingan, untuk budidaya dengan sistem konvensional dengan padat tebar 100 ekor/m3 memerlukan 120-130 hari untuk panen, sedangkan untuk sistem bioflok dengan padat tebar 500-1000 ekor/m3 hanya membutuhkan 100-110 hari saja. Disamping itu penggunaan pakan lebih efisien, jika pada teknlogi konvensional FCR rata-rata 1,2, maka dengan teknologi bioflok FCR dapat mencapai 0,8.

Dibanyak daerah teknologi lele bioflok terbukti sangat efisien, sebagai ilustrasi dengan rata-rata padat tebar 1.000 ekor/m3, maka dalam satu kolam bulat ukuran diameter 3 m, dapat ditebar benih lele sebanyak min. 3.000 ekor, dan mampu  menghasilkan  lele konsumsi mencapai > 300 kg per siklus (100-110 hari). Artinya jika dibanding dengan teknologi konvensional, budidaya system bioflok ini mampu menaikan produktivitas > 3 kali lipat.  

 

Begitupun secara itung-itungan bisnis, usaha ini juga sangat profitable. Sebagai gambaran dalam 1 (satu) unit usaha (25 lubang kolam diameter 3 m), akan menghasilkan produksi sebanyak 7,5 ton per siklus, dengan kata lain pembudidaya dapat meraup pendapatan sekitar 420 juta per tahun atau sekitar 35  juta per bulan. Salah satu kelebihan lain, bahwa pengembangan lele bioflok juga dapat diintegrasikan dengan system hidroponik, secara teknis air buangan limbah budidaya yang mengandung mikroba dapat dimanfaatkan sebagai pupuk  yang baik bagi sayuran.

 

“Tentunya ini adalah bentuk keberhasilan inovasi teknlogi budidaya, dan sekaligus menjadi jawaban tepat bagiamana memenuhi kebutuhan pangan masyarakat saat ini. Inovasi teknologi harus mampu menjawab tantangan dan masalah,  serta mampu  memanfaatkan peluang yang ada”, kata Slamet.

 

IImsa Hemawan, Ketua I  Assosiasi Pengusaha Catfish Indonesia, menyampaikan bahwa budidaya lele bioflok merupakan usaha yang mengandalkan teknologi, sehingga faktor kedisiplinan dalam penerapan SOP sangat penting. “Pendampingan teknologi harus dilakukan secara intens, dengan metode yang memungkinkan masyarakat memahami dan mengadopsi secara mudah”, jelas Imsa.

 

Sementara itu, Badar, ketua kelompok Clarias sp dari Balikpapan, Kalimantan Timur menilai saha ini lebih banyak meraup keuntungan. Menurutnya, dengan padat tebar 4.000 ekor/kolam, hanya dalam waktu 70-80 hari,  sebanyak 8 buah kolam miliknya mampu memproduksi minimal 2,5 ton ikan lele konsumsi. Keuntungan yang didapat Badar dengan berbudidaya sistem bioflok meningkatkan pendapatan hingga 300% dibandingkan dengan sebelumnya.

 

Kenalkan lele bioflok ke lingkungan pondok pesantren

 

Terkait dengan pengembangan lele bioflok ini, KKP melalui Ditjen Perikanan Budidaya juga akan melirik lingkungan pondok pesantren sebagai sasaran pengembangan teknologi yaitu melalui program “Bioflok Masuk Pesantren”. Slamet menyampaikan, pondok pesantren sebagai lembaga non formal merupakan lingkungan yang efektif untuk  pengembangan usaha, sehingga pengenalan usaha lele bioflok ini diharapkan akan mampu mewujudkan pemberdayaan umat, sebagaimana pesan yang disampaikan Presiden Joko Widodo.

 

“Kita punya tanggunjawab moral untuk membangun pesantren, bukan hanya secara ekonomi saja, namun juga bagaimana turut serta dalam meningkatkan kualitas SDM yang ada. Dengan mulai memperkenalkan ikan sebagai sumber pangan bagi mereka,  kita ingin generasi muda di lingkungan pondok pesantren lebih cerdas dengan mulai membiasakan mengkonsumsi ikan”, jelas Slamet.

 

Slamet menambahkan, tahun ini KKP akan mengalokasikan dukungan sebanyak 103 paket, dengan rincian 71 paket dari pusat dan 32 paket dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang akan diberikan terhadap 73 pondok pesantren, 12 kelompok pembudidaya dan 2 lembaga pendidikan yang tersebar di 16 Propinsi termasuk diantaranya adalah wilayah perbatasan yaitu Propinsi NTT(Kab. Belu), Propinsi Papua (Kab. Sarmi dan Wamena), Propinsi Kalimantan Utara (Kab. Nunukan). Total dukungan tersebut Masing-masing dukungan tersebut terdiri dari 12 kolam dengan diameter 3 m, benih lele, pakan dan obat ikan, probiotik, dan sarana operasional. Dimana akhir bulan ini ditargetkan akan direalisasikan.

Khusus dukungan pada pondok pesantren, Slamet berharap akan dapat memberdayakan setidaknya sekitar 78.500 orang santri. Dijelaskan Slamet, ada 2 (dua) outcome yang diharapkan dapat dicapai dengan mendorong program ini, yaitu : Pertama, terwujudnya pergerakan ekonomi di pondok pesantren dan yayasan, taitu dengan memicu terbentuknya kelembagaan penunjang seperti koperasi. Dukungan ini diharapkan akan mampu menghasilkan produksi ikan lele konsumsi sebanyak 370,8 ton per siklus atau 1.452 ton, dengan nilai ekonomi produksi sebesar 21,78 milyar per tahun, dengan angka tenaga kerja yang dapat terlibat mencapai 1.030 orang.

 

Kedua, meningkatnya konsumsi ikan per kapita di kalangan masyarakat pondok pesantren. Sebagaimana diketahui, tingkat konsumsi ikan dikalangan para santri masih rendah yaitu hanya sekitar 9,6 kg per kapita/tahun. Dengan adanya program ini diharapkan akan mampu mendorong tingkat konsumsi ikan di kalangan santri sampai 15 kg per kapita/tahun sehingga secara langsung akan meningkatkan perbaikan gizi . Paling tidak dukungan awal ini akan memicu frekwensi konsumsi ikan di Pondok Pesantren yang semula kurang dari 1 kali dalam seminggu, menjadi paling tidak 2 kali dalam seminggu.

 

Salah satu pesantren yang telah melakukan teknologi ini adalah pesantren Andalusia di Kabupaten Banjarnegara dan saat ini telah menjadi model rujukan bagi kalangan masyarakat di Banjarnegara maupun di daerah lain. “Tentunya ini menjadi salah satu poin positif untuk memicu keberhasilan yang sama di daerah lain. Kedepan seiring berjalannya usaha ini, di setiap pondok pesantren diharapkan akan terfasilitasi pembentukan kelembagaan penunjang semisal koperasi, dengan begitu usaha akan berkesinambungan”, tambah Slamet.

 

Untuk itu, KKP juga akan menggandeng pihak lain seperti Perguruan Tinggi, LSM, maupun lembaga lain untuk turut serta melakukan pembinaan dan pendampingan teknologi, sehingga usaha akan berkesinambungan. KKP juga berencana untuk menggandeng organisasi kegamaan dalam hal ini PP Muhamadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU), untuk bekerjasama dalam program pengembangan lele bioflok ini. “Dua organisisasi keagamaan terbesar di negeri ini diharapkan akan menjadi motor khususnya dalam penguatan kelembagaan dan manajemen usahanya”, Pungkas Slamet

 

Sementara itu, secara nasional target ikan lele diproyeksikan sebesar 1,39 juta ton, dimana realisasi hingga triwulan 1 mencapai 225 ribu ton

 

Bioflok diperkenalkan pada Masyarakat Aceh

Sementara itu, pada kegiatan Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XV di Banda Aceh pada tanggal 6 – 11 Mei 2017 Ditjen Perikanan Budidaya telah memperkenalkan teknologi budidaya ikan Lele sistem bioflok kepada masyarakat Aceh. 8 (delapan) kolam bulat ukuran diameter 3 meter berisi ikan Lele berbagai ukuran mulai dari 625 ekor/kg, 10 – 15 ekor/kg, hingga 8 – 10 ekor/kg, kepadatan 1000 ekor/m3 lengkap dengan sistem aerasi, contoh probiotik dan layanan konsultasi serta dipadukan dengan budidaya sayuran dengan teknologi hidroponik memanfaatkan air dari kolam budidaya bioflok ditampilkan dalam ajang tahunan tersebut.

Kegiatan ini mendapatkan sambutan yang luar biasa dari masyarakat yang berkunjung ke lokasi budidaya Lele sistem bioflok di arena expo aquaculture PENAS XV. Tidak sedikit dari pengunjung yang tertarik untuk mencoba melakukan budidaya ikan Lele sistem bioflok setelah mengetahui keuntungan dan kelebihan dengan menerapkan teknologi ini. Bapak Rifal misalnya, mengaku selama ini hanya dapat menyaksikan dan mengetahui teknologi budidaya sistem bioflok dari youtube dan merasa sangat beruntung dapat melihat dan belajar secara langsung. Pria yang telah melakukan budidaya ikan di kolam tanah ini mengaku akan mencoba menerapkan teknologi ini dan berharap agar teknologi budidaya sistem biofloki dapat diterapkan oleh masyarakat Aceh sehingga produksi dan keuntungan yang diperoleh dapat meningkat