Rabu, 3 September 2014
:: Selamat Datang di Situs Resmi Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya ::
Berita

    SILVOFISHERY, BUDIDAYA BERDASARKAN PRINSIP KESEIMBANGAN
    Hits: 758 | Ditulis pada: 2013-03-18

    Prinsip keseimbangan (Principle of harmony) menjadi dasar bagi terwujudnnya budidaya berkelanjutan (sustainable aquaculture). Kesimbangan yang dimaksud adalah bahwa pengelolaan perikanan budidaya harus mampu menjamin berjalannya siklus dan interaksi yang saling menguntungkan dalam sebuah ekosistem.


     


     


    Silvofishery sejalan dengan prinsip blue economy


     


    Kementerian Kelautan dan Perikanan saat ini tengah serius mewujudkan prinsip Blue Economy dalam pengelolaan suumberdaya kelautan dan perikanan. Prinsip utama dari blue economy tersebut diantaranya adalah : 1) kepedulian terhadap lingkungan (pro-enviroment) karena memastikan bahwa pengelolaannya bersifat zero waste; 2) menjamin keberlanjutan (sustainable); 3) menjamin adanya social inclusiveness; 4) terciptanya pengembangan inovasi bisnis yang beragam ( multiple cash flow).


     


    Silvofishery sebagai sebuah konsep usaha terpadu antara hutan mangrove dan perikanan budidaya yaitu budidaya di tambak menjadi alternatif usaha yang prospektif dan sejalan dengan prinsip blue economy. Pendekatan terpadu terhadap konservasi dan pemanfaatan sumberdaya hutan mangrove memberikan kesempatan untuk mempertahankan kondisi kawasan hutan tetap baik, disamping itu budidaya perairan payau dapat menghasilkan keuntungan ekonomi. Hal yang paling penting adalah bahwa konsep ini menawarkan alternatif teknologi yang aplikatif berdasarkan prinsip keberlanjutan (sustainable)


     


    Pengelolaan terpadu mangrove-tambak diwujudkan dalam bentuk sistem budidaya perikanan yang memasukkan pohon mangrove sebagai bagian dari sistem budidaya yang dikenal dengan sebutan wanamina (silvofishery). Silvofishery pada dasarnya ialah perlindungan terhadap kawasan mangrove dengan cara membuat tambak yang berbentuk saluran yang keduanya mampu bersimbiosis sehingga diperoleh kuntungan ekologis dan ekonomis karena mempertimbangkan kepedulian terhadap ekologi (ecologycal awareness)


     


    Fungsi mangrove sebagai nursery ground sering dimanfaatkan untuk kepentingan pengembangan perikanan. Keuntungan ganda telah diperoleh dari simbiosis ini, selain memperoleh hasil perikanan yang lumayan, biaya pemeliharaannya pun murah, karena tanpa harus memberikan makanan setiap hari. Hal ini disebabkan karena produksi fitoplankton sebagai energi utama perairan telah mampu memenuhi kebutuhan untuk usaha budidaya tambak, berarti disini terwujud efesiensi.


     


    Pengelolaan budidaya ikan/udang di tambak melalui konsep silvofishery, disamping sangat efisien juga mampu menghasilkan produktivitas yang cukup baik dengan hasil produk yang terjamin keamanannya karena merupakan produk organik (non-cemical). Bukan hanya itu konsep ini juga mampu mengintegrasikan potensi yang ada sehingga menghasilkan multiple cash flow atau bisnis turunan antara lain adalah bisnis wisata alam (eco-taurism business) yang sangat prospektif, pengembangan UMKM pengolahan produk makanan dari buah mangrove, disamping bisnis turunan lainnya.


     


     


    Beberapa Model Silvofishery


    Secara umum terdapat tiga model tambak silvofishery, yaitu; model empang parit, komplangan, dan jalur. Selain itu terdapat pula tambak sistem tanggul yang berkembang di masyarakat. Pada tambak silvofishery model empang parit, lahan untuk hutan mangrove dan empang masih menjadi satu hamparan yang diatur oleh satu pintu air. Pada tambak silvofishery model komplangan, lahan untuk hutan mangrove dan empang terpisah dalam dua hamparan yang diatur oleh saluran air dengan dua pintu yang terpisah untuk hutan mangrove dan empang (Bengen, 2003). Tambak silvofishery model jalur merupakan hasil modifikasi dari tambak silvofishery model empang parit. Pada tambak model ini terjadi penambahan saluran-saluran di bagian tengah yang berfungsi sebagai empang. Sedangkan tambak model tanggul, hutan mangrove hanya terdapat di sekeliling tanggul. Tambak jenis ini yang berkembang di Kelurahan Gresik dan Kariangau Kodya Balikpapan. Berdasarkan 3 pola silvofishery dan pola yang berkembang di masyarakat, direkomendasikan pola silvofishery kombinasi empat parit dan tanggul. Pemilihan pola ini didasarkan atas pertimbangan:



    1. Penanaman mangrove di tanggul bertujuan untuk memperkuat tanggul dari longsor, sehingga biaya perbaikan tanggul dapat ditekan dan untuk produksi serasah.

    2. Penanaman mangrove di tengah bertujuan untuk menjaga keseimbangan perubahan kualitas air dan meningkatkan kesuburan di areal pertambakan.


    Luas permukaan air di dalam tambak budidaya jenis mang-rove yang biasanya ditanam di tanggul adalah Rhizophora sp. dan Xylocarpus sp. Sedangkan untuk di tengah/pelataran tambak adalah Rhizophora sp. Jarak tanam mangrove di pelataran umumnya 1m x 2m pada saat mangrove masih kecil. Setelah tumbuh membesar (4-5 tahun) mangrove harus dijarangkan. Tujuan penjarangan ini untuk memberi ruang gerak yang lebih luas bagi komoditas budidaya. Selain itu sinar matahari dapat lebih banyak masuk ke dalam tambak dan menyentuh dasar pelataran, untuk meningkatkan kesuburan tambak.


     


    Kabupaten Subang sebagai model pengembangan silvofishery


    Pemanfaatan mangrove untuk silvofishery di Kabupaten Subang saat ini mengalami perkembangan yang pesat, karena system ini telah terbukti mendatangkan keuntungan secara ekonomis bagi pembudidaya dan nelayan. Adalah Syamsuddin (45 th) yang saat ini menggawangi Koperasi Langgeng Jaya di Ds. Langen Sari Kecamatan Blanakan Kab. Subang yang kemudian menginisiasi pengembangan silvofishery di Subang khususnya di Desa Langen sari. Menurutnya, sejak tahun 1990 sebenarnya Silvofishery telah mulai dikenalkan dan dikembangkan di Kabupaten Subang atas inisasi dari Perhutani yang kemudian mereka sebut dengan konsep Wanamina. Awalnya mereka sangat prihatin dengan terjadinya kerusakan hutan mangrove akibat ulah yang tidak bertanggungjawab sehingga fungsi barrier dan ekologis sudah tidak ada lagi, akibatnya secara langsung berdampak pada menurunnya daya dukung tambak udang, yang berujung pada kegagalan produksi udang windu yang dibudidayakan.


    Alhasil , saat ini melalui kelembagaan koperasi yang ia pimpin telah mampu menginisiasi dan mendorong pengelolan budidaya bandeng dan udang dengan konsep wanamina tersebut. Menurut Syamsuddin, ada beberapa keuntungan ganda yang pembudidaya dapatkan dari penerapan konsep wanamina ini : Pertama : jika dibanding teknologi intensif, maka budidaya dg konsep ini lebih terjamin keberlanjutannya walaupun produktivitas jauh lbh kecil; kedua : daya dukung lahan lebih terjaga karena memegang prinsip ramah lingkungan; ketiga : produk yang dihasilkan lebih aman karena tidak menggunakan pakan dan obat-obat kimiawi (organik); keempat : mampu menghasilan usaha turunan, antara lain eco-wisata (wisata wanamina), dan UMKM untuk pengolahan makanan dari buah mangrove (kripik dan sirup).


    Saat ini menurut Syamsuddin luas lahan tambak silvofishery yang ada di Desa Langensari saja telah mencapai lebih dari 265 ha. “Kalau di total secara kesluruhan lahan silvofishery di Kabupaten Subang angkanya bisa mencapai lebih dari 2.000 ha”, imbuhnya. Pengembangan silvofishery ini sempat menarik perhatian dari para kalangan ilmuan. Menurutnya, ilmuwan dari Jepang bersama para peneliti dari IPB sempat berkunjung untuk  melihat secara langsung konsep yang dikembangkan, dan mereka menyatakan tertarik untuk melakukan kajian lebih lanjut sebagai model bagi kawasan lain. “Kami mengharapkan dukungan Pemerintah, untuk terus mendorong berkembangnya konsep silvofishery khususnya di Kabupaten Subang, karena konsep inilah yang menurut kami mampu menjamin keberlanjutan usaha budidaya karena secara langsung memegang prinsip dan nilai-nilai kearifan lokal”, jelas Syamsuddin.


    Sumber: Cocon, S.Pi
 
Berita Terkait
Hits: 188 | Ditulis pada: 2014-07-04
MENGHADAPI TANTANGAN BISNIS PERUDANGAN NASIONAL

Lampung – Bisnis perudangan nasional dihadapkan pada sebuah tantangan yang cukup besar, disatu sisi produksi udang nasional terus menunjukan trend positif, namun disisi lain fenomena menurunya harga udang di tingkat pembudidaya serta indikasi menurunya demand di hilir menyebabkan cukup terganggunya siklus bisnis udang nasional. .... [Selengkapnya]

Hits: 142 | Ditulis pada: 2014-06-20
PERINGATAN DINI ANTISIPASI DINI TERHADAP DAMPAK EL NINO

Sehubungan dengan peringatan dan NOAA Amerika Serikat tanggal 8 Mei 2014 dan FAO Roma tanggal 23 Mei 2014 tentang terjadinya pemanasan suhu permukaan laut Samudera Pasifik sejak Bulan April 2014, maka diprediksi (P>65%) sejak dua bulan mendatang akan terjadi fenomena el nino. El Nino adalah musim panas tinggi dan kemarau yang sangat panjang, dapat berlangsung 9 bulan .... [Selengkapnya]

Hits: 376 | Ditulis pada: 2014-06-03
PENGEMBANGAN MARIKULTUR BUTUH DUKUNGAN REGULASI YANG EFEKTIF

KKP melalui Ditjen Perikanan Budidaya akan mulai memfokuskan pada pengembangan marikultur khususnya pada perairan laut lepas (offshore), sebuah kebijakan strategis yang diharapkan akan mampu terealisasi secara nyata sebagai tanggung jawab moral dalam upaya mendorong optimalisasi pemanfaatan SDA bagi pembangunan ekonomi nasional.

Kalau saja kita bandingkan dengan Negara .... [Selengkapnya]

  • Budidaya Jaring Sekat, Andalan Perikanan Budidaya Malang
  • Angka Ketersediaan Ikan Indonesia
  • Komitmen ACIAR Dalam Kerjasama Perikanan Budidaya
  • Green Growth Aquaculture Workshop
  • Fiji Meminta Bantuan Teknis Dari DJPB
  • CACING TANAH Lumbricus rubellus PLUS SPIRULINA, PACU PRODUKSI NAUPLIUS
  • Rapat Koordinasi untuk Menata Waduk Juanda - Jatilluhur
  • Kolam Percontohan Saka Taruna Bumi Cibubur
  • Penyusunan SAI menuju WTP Murni
  • PANEN DEMFARM UDANG MAUK POTRET HARAPAN SUKSESNYA DEMFARM DI PANTURA JAWA
  • Link Terkait
    UPT - Balai
    Video Kegiatan

    [Index Video]

    Kode Etik

    Semua hal yang terkait dengan kode etik DJPB, silahkan berkomunikasi melalui alamat e-mail: kode_etik@djpb.kkp.go.id, Atau kunjungi ruang konsultasi DJPB Gedung 165 Lantai 23