Rabu, 26 November 2014
:: Selamat Datang di Situs Resmi Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya ::
Berita

    DIREKTORAT PRODUKSI, GENJOT SERTIFIKASI CBIB
    Hits: 808 | Ditulis pada: 2013-03-18

    Seiring dengan mulai meningkatnya kesadaran masyarakat konsumen global terhadap pentingnya jaminan keamanan pangan (food security), maka sudah menjadi tuntutan dan persyaratan mutlak bahwa setiap aktivitas usaha yang menghasilkan produk makanan (food grade) harus terjamin baik mutu maupun keamanannya, tidak terkecuali bagi produk Perikanan yang saat ini telah menjadi produk primer dan berperan penting dalam menopang ketahanan pangan dunia. Keterjaminan mutu dan keamanan pangan hasil produksi perikanan tersebut harus mulai diterapkan mulai dari hulu sampai hilir sebagai bagian integral dari sistim jaminan mutu dan keamanan pangan.


     


    Sebagai bukti komitmen Pemerintah dalam menjamin food security pada unit usaha budidaya di hulu (on farm), maka telah dikeluarkan regulasi melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor : KEP.02/MEN/2007 tentang Cara Budidaya Ikan Yang Baik (Good Aquaculture Practice), dimana dalam pelaksanaannya mengacu pada regulasi teknis Surat Keputusan Dirjen Perikanan Budidaya Nomor : KEP.44/DJ-PB/2008 tentang Petunjuk Pelaksanaan Sertifikasi CBIB. Melalui ke-dua regulasi tersebut, maka setiap unit usaha budidaya diwajibkan menerapkan Kaidah-kaidah CBIB dalam setiap rangkaian proses produksi. Bahkah Ditjen Perikanan Budidaya, dalam hal ini Direktorat Produksi telah menetapkan target sertifikasi CBIB sebagai indikator kinerja kegiatan (IKK).


     


    Sertifikasi CBIB dilakukan sebagai upaya untuk untuk memberikan jaminan terhadap unit usaha budidaya yang telah menerapkan CBIB dan dapat memperoleh sertifikat CBIB yang menyatakan bahwa produk budidaya yang dihasilkannya aman untuk dikonsumsi.


     


    Capaian Kinerja Sertifikasi CBIB,..


     


    Jumlah unit usaha budidaya yang tersertifikasi CBIB Tahun 2012 ditarget sebanyak 4.000 unit, dimana jumlah ini merupakan kumulatif dari target tahun 2011 sebanyak 2.000 unit. Sedangkan realisasi  jumlah unit budidaya yang tersertifikasi pada Tahun 2012 sebanyak 3.811 unit usaha budidaya dengan tingkat capaian sebesar 95,3% dari target. Capaian ini merupakan kumulaif dari capaian tahun-tahun sebelumnya, dimana jika dibandingkan tahun 2011, maka capaian pada tahun 2012 mengalami peningkatan sebesar 5,1% dari capaian Tahun 2011 yang hanya sebesar 90,2%. Penilaian CBIB pada Tahun 2012 tidak hanya dilakukan pada unit pembudidayaan ikan yang baru tapi juga dilakukan pada unit budidaya yang telah memiliki sertifikat (perpanjangan/verifikasi). Kegiatan verifikasi dimaksudkan dalam rangka melihat sejauhmana konsistensi pelaku usaha budidaya dalam menerapkan prinsip CBIB.


    Berdasarkan komposisi unit usaha budidaya yang dinilai, distribusi sertifikasi CBIB masing-masing untuk unit usaha perorangan sebanyak 2.916 unit (76,5%); Unit usaha POKDAKAN sebanyak 563 unit (14,7%), dan unit usaha perusahaan sebanyak 332 unit (8,7%).


     


    Tabel .  Jumlah Penilaian Sertifikasi CBIB pada Unit Pembudidayaan Ikan Tahun 2004 – 2012


     












































































    No



    Unit Budidaya



    2004



    2005



    2006



     


    2007



    2008



    2009



    2010



    2011



     


    2012



    Kumu-latif



    1



    Perorangan



    -



    1



    -



    22



    40



    66



    190



    1.053



    1.544



    2.916



    2



    Pokdakan



    4



    6



    2



    6



    3



    19



    120



    197



    206



    563



    3



    Perusahaan



    9



    12



    12



    49



    30



    63



    60



    54



    43



    332


     

    JUMLAH



    13



    19



    14



    77



    73



    148



    370



    1.304



    1.793



    3.811



     


    Sedangkan berdasarkan dari jumlah jenis komoditas yang disertifikasi, maka pada Tahun 2012 menunjukan adanya peningkatan jenis komoditas dari Tahun 2011 sebanyak 17 jenis komoditas menjadi 20 jenis komoditas. Ke-tiga Komoditas baru tersebut adalah ikan papuyu, nilem dan tawes.


     

























































































































































































































































































































































    Tabel 1.  Jumlah Unit Pembudidayaan Ikan yang Memiliki Sertifikat CBIB Menuru Komoditas   Tahun         2004-2012


                           

    No



    Komoditas



    2004



    2005



    2006



    2007



    2008



    2009



    2010



    2011



    2012*)



    Kumulatif **)



    1



    Udang



    11



    12



    7



    56



    38



    70



    94



    272



    320



    880



    2



    Nila



    -



    -



    -



    -



    -



    17



    67



    288



    335



    707



    3



    Kerapu



    -



    -



    -



    -



    -



    -



    11



    17



    43



    71



    4



    Kakap



    -



    -



    -



    -



    -



    1



    2



    -



    2



    5



    5



    Rumput laut



    -



    -



    -



    -



    -



    -



    3



    51



    183



    237



    6



    Patin



    -



    -



    -



    -



    -



    2



    25



    95



    146



    268



    7



    Lele



    -



    -



    -



    -



    -



    -



    20



    267



    205



    492



    8



    Bandeng



    -



    -



    -



    -



    -



    -



    1



    47



    83



    131



    9



    Mas



    -



    -



    -



    -



    -



    -



    7



    71



    122



    200



    10



    Gurame



    -



    -



    -



    -



    -



    -



    23



    51



    60



    134



    11



    Udang galah



    -



    -



    -



    -



    -



    -



    2



    12



    16



    30



    12



    Bawal Bintang



    -



    -



    -



    -



    -



    -



    1



    -



    2,00



    3



    13



    Sidat



    -



    -



    -



    -



    -



    -



    -



    2



    1



    3



    14



    Lobster



    -



    -



    -



    -



    -



    -



    -



    1



    1



    2



    15



    Bawal



    -



    -



    -



    -



    -



    -



    -



    4



    8



    12



    16



    Jelawat



    -



    -



    -



    -



    -



    -



    -



    6



    -



    6



    17



    Kuwe



    -



    -



    -



    -



    -



    -



    -



    7



    4



    11



    18



    Papuyu



    -



    -



    -



    -



    -



    -



    -



    -



    1



    1



    19



    Nilem



    -



    -



    -



    -



    -



    -



    -



    -



    2



    2



    20



    Tawes



    -



    -



    -



    -



    -



    -



    -



    -



    1



    1



    21



    Lainnya



    -



    -



    -



    -



    -



    -



    -



    -



    -



    0


     

    JUMLAH



    11



    12



    7



    56



    38



    90



    256



    1.191



    1.535



    3.196



     


    Dilihat dari distribusi jenis komoditas yang tersertifiksi, komoditas udang mendominasi dengan jumlah sebanyak 880 unit usaha atau sekitar 28% dari keseluruhan jenis komoditas. Angka ini tentunya akan terus didorong mengingat udang merupakan komoditas unggulan ekspor yang diandalkan saat ini. Pengaturan persyaratan perdagangan udang dunia yang semakin ketat menuntut adanya jaminan mutu dan keamanan pangan hasil produksi udang khususnya di hulu (on farm). Pencabutan sanksi CD 220 oleh Uni Eropa telah memberikan dampak positif terhadap kinerja ekspor udang nasional, ini tentunya merupakan buah dari hasil kerja keras dan kesadaran semua stakeholders dalam menjamin konsistensi penerapan sistem jaminan mutu dan keamanan pangan salah satunya konsistensi dalam penerapan kaidah CBIB dalam proses produksi budidaya.


    Disadari bahwa pencapaian sertifiksi tahun 2012 belum memenuhi target kinerja, hal ini disebabkan oleh beberapa kendala diantaranya (i)  Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi terlambat mengajukan permohonan Sertifikasi; (ii) terbatasnya anggaran untuk perjalanan penilaian CBIB; (iii) Beberapa Dinas Kelautan dan Perikanan belum memahami pentingnya melaksanakan Sertifikasi CBIB sebagai bagian dari Sistem Jaminan Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Budidaya; (iv) kurang optimalnya sosialisasi, pembinaan penerapan CBIB yang dilakukan oleh fasilitator/ Dinas kepada unit pebudidyaan ikan; (v) masih minimnya pemahaman pembudidaya tentang standar dan kriteria CBIB serta Sertifikat CBIB belum memiliki nilai tambah bagi pembudidaya yang telah menerapkan standar maupun kriteria CBIB.


     


    Mendorong CBIB Sebagai suatu kebutuhan,..


     


    Dalam menunjang capaian sertifikasi CBIB Direktorat Produksi terus mendorong melalui upaya antara lain sosialisasi, pembinaan penerapan CBIB, Forum Koordinasi, Apresiasi auditor bagi petugas UPT, Apresiasi auditor di Daerah, penilaian, verifikasi serta pengawasan pada unit pembudidayaan ikan.


     


    Pola pikir klasik yang mendasari minimnya kesadaran masyarakat baik pembudidaya maupun konsumen di Indonesia terhadap pentingnya jaminan mutu dan keamanan pangan hasil perikanan budidaya menjadi salah satu penyebab minimnya pencapaian sertifiksi CBIB. Pola manajemen budidaya yang sehat dan aman, seringkali masih diabaikan oleh pelaku budidaya khususnya pada unit usaha dengan komoditas non ekspor, hal ini disebabkan masih ada anggapan bahwa dampak CBIB belum bisa memberikan nilai tambah maupun posisi tawar bagi produk yang dihasilkan, toh, produk hasil budidaya masih diterima di pasar lokal dengan harga yang sama. Disisi lain konsumen lokal seringkali juga tidak peduli dengan mutu dan keamanan produk karena lebih mempertimbangkan harga dibanding mutu. Hal inilah yang menjadikan Pemerintah harus lebih bekerja ekstra keras dalam upaya melakukan sosialisasi dan pembinaan terhadap pembudidaya.


     


    Kondisi ini tentunya berbeda dengan negara maju semisal Jepang, bahwa tingkat kesadaran terhadap mutu dan keamanan pangan produk perikanan telah melekat pada masyarakat bukan hanya terhadap produsen tetapi pada tataran konsumen. Tanggungjawab dan kontrol terhadap mutu dan keamanan suatu produk telah mampu dilakukan secara ketat dan mandiri, sehingga pemerintah hanya bersifat sebagai kontrol bukan pengendali secara langsung. Terhadap suatu kejadian/kasus keamanan pangan, pemerintah ataupun lembaga akan dengan mudah dan cepat menemukan sumbernya, karena jaminan treacibility yang sangat baik pada seluruh tahapan proses produksi mulai di hulu sampai di hilir, disamping itu penerapan reward dan punishment dilakukan secara konsisten.


     


    Kesadaran dan tanggungjawab masyarakat terhadap jaminan mutu dan keamanan pangan harus mulai ditanamkan sedini mungkin terhadap pelaku usaha budidaya, pelaku bisnis/industri dan masyarakat konsumen bukan hanya pada komoditas ekspor tetapi juga terhadap komoditas non ekspor (lokal), sehingga CBIB kedepan bukan hanya sebatas prasyarat administrasi tapi harus sudah menjadi sebuah kebutuhan pada tataran masyarakat pembudidaya. Disamping itu yang tidak kalah pentingnya adalah penerapan reward dan punishment dari Pemerintah dalam rangka melindungi kesehatan masyarakat konsumen harus segera diimplementasikan secara konsisten dengan begitu akan terbangun tanggungjawab bersifat timbal balik dari stakeholders pelaku usaha perikanan.


    Sumber: Cocon, S.Pi
 
Berita Terkait
Hits: 356 | Ditulis pada: 2014-07-04
MENGHADAPI TANTANGAN BISNIS PERUDANGAN NASIONAL

Lampung – Bisnis perudangan nasional dihadapkan pada sebuah tantangan yang cukup besar, disatu sisi produksi udang nasional terus menunjukan trend positif, namun disisi lain fenomena menurunya harga udang di tingkat pembudidaya serta indikasi menurunya demand di hilir menyebabkan cukup terganggunya siklus bisnis udang nasional. .... [Selengkapnya]

Hits: 301 | Ditulis pada: 2014-06-20
PERINGATAN DINI ANTISIPASI DINI TERHADAP DAMPAK EL NINO

Sehubungan dengan peringatan dan NOAA Amerika Serikat tanggal 8 Mei 2014 dan FAO Roma tanggal 23 Mei 2014 tentang terjadinya pemanasan suhu permukaan laut Samudera Pasifik sejak Bulan April 2014, maka diprediksi (P>65%) sejak dua bulan mendatang akan terjadi fenomena el nino. El Nino adalah musim panas tinggi dan kemarau yang sangat panjang, dapat berlangsung 9 bulan .... [Selengkapnya]

Hits: 509 | Ditulis pada: 2014-06-03
PENGEMBANGAN MARIKULTUR BUTUH DUKUNGAN REGULASI YANG EFEKTIF

KKP melalui Ditjen Perikanan Budidaya akan mulai memfokuskan pada pengembangan marikultur khususnya pada perairan laut lepas (offshore), sebuah kebijakan strategis yang diharapkan akan mampu terealisasi secara nyata sebagai tanggung jawab moral dalam upaya mendorong optimalisasi pemanfaatan SDA bagi pembangunan ekonomi nasional.

Kalau saja kita bandingkan dengan Negara .... [Selengkapnya]

  • Green Growth Aquaculture Workshop
  • Fiji Meminta Bantuan Teknis Dari DJPB
  • CACING TANAH Lumbricus rubellus PLUS SPIRULINA, PACU PRODUKSI NAUPLIUS
  • Rapat Koordinasi untuk Menata Waduk Juanda - Jatilluhur
  • Kolam Percontohan Saka Taruna Bumi Cibubur
  • Penyusunan SAI menuju WTP Murni
  • PANEN DEMFARM UDANG MAUK POTRET HARAPAN SUKSESNYA DEMFARM DI PANTURA JAWA
  • KKP Kirimkan Tim ke Waduk Djuanda, Jatiluhur
  • BRI, Mitra dan Pembudidaya, Bersatu untuk Maju
  • Bantuan untuk Petambak Udang Bukan Subsidi
  • Link Terkait
    Informasi Lahan dan Air
    Whistleblower
    Unit Pengendalian Gratifikasi
    Sistem Arsip dan Persuratan
    Video Conference
    Pelayanan Publik
    UPT - Balai
    Video Kegiatan

    [Index Video]

    Kode Etik

    Semua hal yang terkait dengan kode etik DJPB, silahkan berkomunikasi melalui alamat e-mail: kode_etik@djpb.kkp.go.id, Atau kunjungi ruang konsultasi DJPB Gedung 165 Lantai 23


    Flag Counter
    Survey Pembaca







    Hasil Survey